Selamat datang dan salam jumpa bersama Penyuluh perikanan.
Setelah kita membaca postingan di atas pada Pengenalan jaring milenium, Bagian-bagian jaring Milenium, dan sistim pengoperasian jaring milenium, maka pada kesempatan ini Penyuluh perikananakan melanjutkan pembahasan tentang pembuatan jaring Milenium. Sebelum melakukan pembuatan jaring milenium ada beberapa hal pokok yang harus diperhatikan yaitu dengan menentukan terlebih dahulu jenis, ukuran, swimming layer,
habitat perairan dari biota yang akan dijadikan target tangkapan. Setelah hal pokok di atas ditentukan atau diketahui, baru menentukan konstruksi jaring yang disesuaikan dengan hal yang disebutkan di atas.
habitat perairan dari biota yang akan dijadikan target tangkapan. Setelah hal pokok di atas ditentukan atau diketahui, baru menentukan konstruksi jaring yang disesuaikan dengan hal yang disebutkan di atas.
Bahan jaring
Bahan jaring yang dipakai dalam pembuatan jaring milenium memakai bahan
sintetis seperti nylon multifilament twine. Untuk mengetahui bahan
jaring dapat dilihat pada label yang ada pada setiap kemasan bahan
jaring yang dijual. Pada setiap label yang ada pada setiap kemasan
biasanya tercantum
nama dari jenis bahan, ukuran mata (mesh size-MS), jumlah mata jaring ke arah panjang (mesh length – ML) dan jumlah mata ke arah dalam (mesh depth– Md)
Ketebalan bahan
Ukuran
ketebalan bahan sebaiknya memilih bahan jaring yang berdiameter kecil,
kuat dan lunak. Untuk menangkap ikan sebaiknya memakai benang no. 210D.
Untuk pemilihan nomor benang yang akan dipergunakan dalam pembuatan
jaring milenium disesuaikan dengan pengalaman dan kebiasaan.
Jenis simpul
Simpul
mata jaring yang dibuat secara manual sebaiknya mempergunakan jenis
simpul trawl knot (english knot) yang maksudnya adalah supaya kedudukan
simpul setelah menjadi jaring tidak berobah (stabil).
Sedangkan jaring milenium yang dibuat dengan mesin biasanya pempergunakan jenis simpul plat knot.
Warna bahan
Warna
bahan jaring milenium adalah putih. Jaring milenium simpulnya
mengandung fosfor menyala di dalam air. Hal ini menarik ikan-ikan yang
bersifat fototaksis positif terhadap cahaya, seperti tenggiri, tongkol,
maupun ikan-ikan dasar (demersal) lainnya. Pemilihan warna dapat
disesuaikan dengan tingkah laku ikan atau disesuaikan dengan keinginan
atau keparcayaan nelayan yang akan mengoperasikannya.
Ukuran mata jaring
Ukuran
mata jaring (mesh size) sebaiknya disesuaikan dengan ukuran ikan yang
akan dijadikan target tangkapan, atau keliling mata jaring yang akan
dipakai harus lebih besar dari keliling bagian akhir penutup insang
(operculum) dan harus lebih kecil dari keliling badan maksimal (maximum
body) dari ikan yang dijadikan target tangkapan.
Presentase kerutan
Sebelum
bahan jaring akan dibuat jaring milenium, terlebih dahulu harus
ditentukan dulu berapa persen bahan jaring akan dikerutkan pada tali ris
atas atau pada tali ris bawah. Setelah itu baru dilakukan pemasangan
badan jaring pada tali ris atas dan tali ris bawah. Nilai pengerutan
pada bagian tali ris atas sebaiknya nilainya sedikit lebih besar dari
pada pengerutan pada bagian bawah.
Cara
perhitungan untuk menentukan berapa mata yang harus dipasang pada tali
ris atas dan berapa mata yang harus dipasang pada tali ris bawah, dapat
dihitung dengan cara perhitungan hang-in ratio, hang-out ratio, hang
ratio atau dengan perhitungan hanging ratio.
Demikian dengan tersusunya artikel dalam postingan ini
diharapkan menjadi acuan bagi sahabat Penyuluh perikanan dimanapun
berada. Sahabat Penyuluh dapat memberikan informasi penting dan
bermanfaat bagi nelayan sehingga nelayan mempunyai bekal ilmu
pengetahuan dan bagaimana cara membuat serta mengoperasikan jaring
milenium. Dengan bekal yang didapat dari penyuluh diharapkan nelayan
dapat memperoleh hasil tangkapan yang maksimal dan kesejahteraan nelayan
makin meningkat.
Keterangan:
Besar ukuran mata jaring yang besarnya dihitung kali penambahan
panjang kaki jaring (bar). Pengukuran kaki mata jaring diukur dari
tengah-tengah ujung simpul yang satu dengan tengah-tengah ujung simpul
yang lainnya. Jaring insang yang dalam pengoperasiannya dihanyutkan di
perairan, salah satu ujungnya diikatkan pada pelampung tanda atau pada
kapal yang mengoperasikannya. Alat yang digunakan untuk mendeteksi
keberadaan ikan/gerombolan ikan di suatu daerah penangkapan. Pelampung
yang dipasang pada bagian badan jaring Salah satu dari sifat ikan yang
selalu menuju/tertarik kearah cahaya pengumpul ikan. Presentase dari
panjang jaring yang terpasang pada tali ris dibagi dengan panjang jaring
yang direntangkan secara sempurna. Pengangkatan alat tangkap untuk
diambil hasil tangkapannya.
Simpul mata jaring
Pelampung yang dilengkapi dengan cahaya Lampu atau cahaya yang dipergunakan sebagai alat bantu dalam proses pengumpulan ikan di suatu lokasi perairan.
Mesh depth adalah symbol/kode yang artinya menunjukan banyaknya mata jaring kearah dalam yang
jumlahnya 100 mata.
Keliling ikan pada tinggi badan ikan maksimal. Besar keliling ikan pada bagian akhir penutup insang.
- Tali ikat pelampung dan tali gantung jarring dibenta ( rentangkan supoaya tali tidak membelit)
- Masukan tali ikat pelampung ke dalam pelampung
- Masukan tali gantung jarring ke dalam mata jarring bagian atas
- Kemudian tali ikat pelampung dan tali gantung jarring di ikat menjadi satu, dimulai dari ujung jarring pada setiap jarak 50 cm sampai ke ujung jarring lainnya. Pada setiap jarak 150 cm dilakukan pengikatan pelampung dan pada setiap jarak 23 meter di ikat pelampung tambahan.
- Kemudian tali ikat batu dan tali jarring bwah di ikat menjadi satu, dimulai dari ujung jarring pada setiap jarak 50 cm sanpai ke ujung jarring lainnya. Pada setiap jarak 50 cm dilakukan pengikatan batu pemberat dan pada setiap jarak 9 meter diikat pemberat tambahan. (MEDAN)
DAFTAR PUSTAKA
® Ayodhya, A. U. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri, Bogor.
® Martasuganda, S. 2008. Jaring Insang. Institut pertanian Bogor, Bogor.
® Sadhori N. 1984. Bahan Alat Penangkap Ikan, CV Yasaguna, Jakarta.
® Waluyo
Subani dan H.R. Barus. 1989. Alat Penangkap Ikan dan Udang Laut di
Indonesia, Edisi khusus Jurnal Penelitian Perikanan Laut, No. 50,
Jakarta.
Sumber refernsi:
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Badan Pengembangan sumberdaya Manusia kelautan dan Perikanan
Pusat Pengembangan Penyuluhan Perikanan
Materi penyuluhan Perikanan